Hubungan antara pria mukmin dan bidadari bukan hanya hubungan syahwat semata, tetapi hubungan hingga derajat yang paling tinggi yang dinamakan sayang, cinta dan kasih. Allah telah menciptakan bidadari dan menjadikan mereka memiliki raya sayang, cinta dan kasih kepada laki-laki mukmin di surga, dan menjadikan tabiat kemakhlukkannya terbatas pada cinta dan kedekatannya kepada suaminya, bukan untuk yang lain. Allah menjadikan ia tidak mampu mencintai, selain suaminya yang mukmin, untuk selamanya. Allah mengilhamkan rasa cinta untuk sang suami sehingga mereka tidak menemukan orang yang lebih tampan, lebih lembut, dan lebih sayang selain suaminya.
Oleh karena itu, ia tidak mungkin akan membenci suaminya. Ia akan merasa terpikat atau terpesona dan merindukan suaminya. Meskipun di surga banyak sekali bidadari yang canti selain dirinya, dia tidak akan cemburu, iri, atau dendam. Ia akan merindukan suaminya dengan kerinduan dan cinta yang sangat besar. Meskipun ditampakkan kepadanya seluruh orang mukmin ahli surga, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah derajatnya, ia tidak akan berpaling dari suaminya. Ia juga tidak akan bisa menerima mereka karena suaminya yang telah dikhususkan oleh Allah untuknya.
Sebagaimana Allah telah meletakkan rasa cemburu untuk wanita di dunia, Allah meletakkan rasa cinta di hati para bidadari hanya untuk suaminya, tidak untuk laki-laki lain. Meskipun ada laki-laki lain yang lebih tinggi derajatnya dan lebih terhormat tempatnya, ia tahu bahwa suaminya memiliki keutamaan karena kedekatannya kepada Allah.
Seorang Mukmin akan sampai pada derajat yang tinggi ini dengan rahmat Allah dan dengan pahala yang ia peroleh karena amal perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. Seperti amal kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah. Allah akan mewariskan surga kepadanya dan menjadikannya pemilik surga dengan rahmat-Nya sebagai bukti janji-janji-Nya, Dzat yang tidak pernah mengingkari janji.
Firman Allah: “Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (surga) firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (al-Mukminun: 10-11)
Allah mewariskan kepada mereka istana, tenda, kamar, permadani, anak-anak surga, bidadari, popularitas, dan sungai-sungai surga, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, seperti amal kebajikan, kejujuran, dan ibadah yang tulus semata-mata untuk Allah. Bidadari adalah istri orang Mukmin. Ia diciptakan untuk orang mukmin. Ia memiliki ketinggian baik dari segi lahir maupun batin. Kecemburuan dan kesombongan telah dihilangkan darinya. Ia selamanya tawadluk (rendah hati) di depan suaminya, ia hanya mengharap keridlaan suaminya.
Itu sebabnya, ia senantiasa mendekat dan menyayangi suaminya. Ia memenuhi kebutuhan suaminya. Ia pun menyanyi dengan suara yang tidak pernah kita dengar dari orang-orang di dunia, dengan pemandangan yang hebat. Keduanya akan dibantu oleh pelayan-pelayan dan wildan (anak-anak di surga), yang akan menyuguhkan segala yang baik, lezat dan mengundang selera. Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya terbuat dari sutera. Buah-buahan di surga dapat dipetik dari dekat oleh keduanya, sedangkan sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka minum minuman anggur yang penuh kenikmatan yang menggiurkan.
“Di sana [kamu] tidak mendengar perkataan yang tidak berguna. Di sana ada mata air yang mengalir. Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang tersedia [di dekatnya], dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghaasyiyah: 11-16)
“Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada di dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (al-Hijr: 47)
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan. (Kepada mereka dikatakan:) “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Yaasiin: 55-58)
Tidak ada penyesalan bagi hamba dan tidak ada kebaikan yang terputus di surga. Di surga, keridlaan Allah dan kehidupannya bersifat kekal. Allah telah mencabut dari hati semua penghuni surga segala penyakit yang merusak kehidupan seperti di dunia, terutama penyakit terbesar, yaitu dendam atau dengki yang bersarang dalam dada dan bersemayam di bawah tekanan kemanusiaan. Seluruh penghuni surga bersaudara. Mereka bertemu di depan kemuliaan Allah, Dzat Yang Maha Berkuasa.
Sifat bidadari yang paling baik adalah ia terlihat menggiurkan ketika mendekati suaminya, dia berperilaku halu kepada suaminya, laksana kehalusan seorang ibu kepada anaknya. Ia pun bersikap genit terhadap suaminya dengan kecantikannya yang menggiurkan.
Mereka mempertontonkan pakaiannya yang mewah yang terbuat dari tenunan sutera. Ia merayu suami dengan kata-kata yang menggoda karena Allah menciptakan dirinya untuk sang suami sehingga tak ada yang lain bagi dirinya kecuali sang suami tercinta. Ia berbuat dengan segala kemampuannya untuk kenyamanan istirahat sang suami, setiap waktu. Ia senantiasa memperlihatkan kesiapan dan cintanya agar bertambah dekat dengan sang suami. Hubungan dan komunikasinya dengan sang suami dalam bahasa godaan yang sempurna.
Sungguh pertemuan para bidadari dan orang-orang mukmin merupakan pertemuan yang hangat. Mereka merindukan setiap tempat dari tempat-tempat orang mukmin. Mereka mengenakan pakaian kegembiraan, mereka hidup dalam cinta, dan aroma mereka adalah aroma misik dan kafur. Setiap bidari berharap untuk tidak pernah berpisah dengan suaminya selamanya.
Orang-orang mukmin di surga juga senantiasa merindukan para bidadari karena pengabdian yang telah mereka persembahkan untuk suami-suami mereka, seperti ayat-ayat cinta, sayang, dan kedekatan sehingga orang-orang mukmin tersebut gembira memiliki cinta kasih mereka. Mereka senantiasa dalam kerinduan kepada bidadari-bidarinya. Para bidadari pun demikian. Tak seorang pun dari mereka yang membenci orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin itu tidak membeda-bedakan atau membanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lain. Para bidadari itu di mata orang-orang mukmin sama saja. Ahli surga mencintai mereka dan mereka juga mencintai ahli surga. Ahli surga mendekati mereka, sebagaimana mereka mendekati ahli surga.
Firman Allah: “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.” (Qaaf: 35)
Tentang hubungan antara orang-orang mukmin dan para bidadari, Rasulullah saw. telah memberikan suatu penafsiran dengan sabdanya yang diceritakan dari Abu Hurairah ra. bahwa beliau ditanya, apakah ahli surga menggauli istri-istrinya? Rasulullah saw. menjawab: “Kelakian yang senantiasa kuat, kewanitaan yang tiada disembunyikan, serta gairah yang tiada putus-putusnya.” (HR Baihaqi)
Pembicaraan tentang hal ini adalah realitas kemanusiaan (anak cucu Adam a.s), sedangkan hakekat komunikasi antara perempuan dan laki-laki merupakan tujuan pembicaraan yang sebenarnya ketika fikiran merasa tenang dan urusan manusia baik-baik saja. namun sebaliknya, ketika manusia hidup dalam kebingungan, penuh dengan masalah, stress, hal itu akan menjauhkan dia dari berhubungan seksual dan sedikit dalam berfikir.
Itulah sebabnya orang mukmin di surga hidup dalam kenikmatan dan jauh dari kebingungan sehingga kebutuhannya terhadap hubungan seksual semakin kuat. wallaaHu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar